Minggu, 10 November 2013

HADIS DAKWAH II ; SEMUA ORANG ISLAM BERSAUDARA


BAB I
PENDAHULUAN

 A. Latar belakang
            Hadis adalah sumber hukum bagi umat islam yang kedua setelah Al –Qur’an. Pastinya umat islam mengetahui bahwa hadis merupakan segala perkataan dan perbuatan nabi Muhammad SAW yang dijadikan suri tauladan bagi umatnya. Hadis berasal dari bahasa arab yang kata mufratnya “ Al- Hadits” yang jama’nya al-ahadits dan kata dasarnya adalah “ tahdits “ yang artinya “ Pembicaraan “.
            Hadis sangat penting utntuk dipelajari oleh umat islam khususnya calon Muballigh karena dalam menyebarkan ajaran islam seorang muballigh harus mengetahui sumber – sumber hukum yang telah ditetapkan salah satunya adalah Hadis mengenai “ semua orang islam bersaudara “ yang berbunyi sebagai berikut ;

ﻋﻦﺁﺒﯥﮬﺮﯿﺮﺓﺮﻀﯽﷲﻋﻧﻪﻘﺂﻞ;ﻘﺂﻞﺮﺴﻮﻞﷲﺼﻟﻰﷲﻋﻟﯾﻪﻮﺴﻟﻡ:ﻵﺘﺣﺎﺴﺩﻭﺁﻮﻻﺘﻧﺂﺠﺷﯚﺍﻭﻻﺘﺑﺂﻏﺿﻭﺍﻭﻻﺘﺩﺍﺒﺭﻭﺍﻭﻻﻴﺑﻳﺢﺒﻌﺿﻛﻡﻋﻠﻰﺒﻳﺢﺒﻌﺽﻭﻭﻨﻭﺍﻋﺑﺂﺩﷲﺍﺨﻭﺍﻨﺂ.ﺍﻠﻣﺳﻟﻡﺍﺨﻮﺍﻠﻣﺳﻟﻡﻻﻴﻇﻟﻣﮫﻮﻻﻴﺧﺫﻠﮫﻭﻻﻴﻛﺫﺒﮫﻮﻻﻴﺣﻗﺭﮦﺍﻠﺗﻗﻮﻱﻫﻬﻧﺎﻮﻴﺷﻳﺭﺍﻠﻰﺼﺩﺭﻩﺜﻼﺚﻤﺭﺍﺕﺒﺣﺳﺏﺍﻤﺭﻯﺀﻤﻦﺍﻠﺷﺭﺃﻦﯿﺣﻗﺭﺍﺧﺎﮦﺍﻠﻤﺳﻟﻡ.ﮎﻝﺍﻤﺳﻠﻡﻋﻟﻰﻠﻤﺳﻠﻡﺤﺭﺍﻡﺪﻤﮫﻮﻤﺎﻠﮫﻮﻋﺭﻀﮫ



            Artinya ;
            “  Dari Abu hurairah r.a , ia berkata ; Rasulullah SAW bersabda ; “ Janganlah kamu saling iri hati , janganlah lebih – melebihi harga , janganlah benci – membenci , janganlah bermusuh – musuhan ( sebagaimana ) janganlah menjual atas penjualan orang merebut pembeli yang sedang menawar barang orang lain. Jadilah wahai hamba – hamba Allah bersaudara. Seorang islam adalah saudara orang islam yang lainnya karena itu janganlah menganiaya , membiarkannya, membohonginya , dan menghina saudaranya. Takwa itu letaknya ada di sini,,”. Dan beliau mengisyaratkan ke dadanya dan perkataan ini diulanginya sampai tiga kali ,“cukuplah kejahatan seseorang yang suka menghina saudara yang islam. setiap orang islam lainnya haramlah darahnya, hartanya , dan kehormatannya”.
 B. Rumusan masalah
1.    Apa mufradat dari hadits di atas ?
2.    Apa sajakah yang merusak persaudaraan muslim ?
C. Tujuan
1.    Menguraikan atau menjelaskan kandungan hadis yang berjudul “ Semua umat islam adalah bersaudara “ .
2.    Memenuhi tugas individu yang berkaitan dengan mata kuliah “ Hadis dakwah II “
D. Manfaat
1.    Dapat menambah wawasan mengenai hadis dakwah
2.    Sebagai bahan acuan belajar mengenai mata kuliah yang bersangkutan .



BAB II
PEMBAHASAN

A. Ma ‘ nal mufradat ;
Janganlah saling iri hati                                                                            ﻻﺘﺣﺎﺴﺩﻮﺍ
Janganlah melebihi harga ,                                                ﻮﻻﺘﻧﺎﺠﺷﻮﻮﻻﺘﺭﺍﻴﺩﻮﺍﻔﻰﺍﻠﺛﻣﻥ
( diwaktu menawar )
Janganlah benci – membenci                                                                 ﻭﻻﺘﺑﺎﻏﺿﻭ
janganlah belakang – membelakangi                                        ﻭﻻﺘﺩﺍﺑﺭﻭ:ﻭﻻﺘﺣﺘﻟﻓﻭﺍ
janganlah sebagianmu menjual ;                                                          ﻭﻻﯾﺑﺢﺒﻌﺿﻡ
Atas penjualan yang lainnya ( merebut pembeli )  ;                              ﻋﻠﻰﺒﻌﺽ
Dan jadilah wahai kamu hamba – hamba allah ;                               ﻭﮐﻭﻨﻭﺍﻋﺑﺎﷲ
Saudara – saudaramu ;                                                                                   ﺍﺨﻭﺍﻨﺎ
Janganlah menganiayanya ;                                                                       ﻻﯿﻇﻟﻣﻪ
Janganlah membiarkannya ;                                                                      ﻭﻻﻴﺧﺫﻠﻪ
dan janganlah membohonginya ;                                                              ﻭﻻﻴﻛﺫﺒﻪ
dan janganlah menghinanya ;                                                                  ﻭﻻﯿﺣﻗﺭﻩ
Taqwa itu ;                                                                                                         ﺍﻠﺗﻗﻭﻯ
letaknya disini ;                                                                                                   ﻫﻬﻧﺎ
Dan beliau menunjuk pada dadanya ;                                             ﻭﻴﺷﻳﺭﻠﻰﺼﺩﺭﻩ
Cukuplah keburukan seseorang ;                                              ﺒﺣﺳﺏﺍﻤﺮﻯﺀﻤﻥﺍﻠﺷﺭ
Ia menghina saudaranya yang lain ;                                              ﺍﻦﻴﺣﻗﺮﺍﺨﺎﻩﺍﻠﻣﺳﻟﻡ
Darahnya ;                                                                                                            ﺩﻤﻪ
Dan kehormatannya ;                                                                                    ﻋﺭﻀﻪ

 B . Penjelasan hadis
            Dalam hadis diatas Rasulullah SAW ini mengandung perintah untuk menjauhkan diri dari melakukan perbuatan – perbuatan yang merusak kehormatan dan persaudaraan orang islam.
            Berikut dibawah ini berbagai macam perbuatan yang dilarang oleh agama yang dapat mengakibatkan rusaknya persaudaraan antar muslim , yaitu sebagai berikut ;

1 ) Saling mendengki terhadap nikmat yang diperoleh umat islam
            Seorang pendengki bisa menyakiti hati yang didengki. Dengki dapat terbagi menjadi dua macam ;
v  Dengki yang disertai harapan agar nikmat hilang dari orang yang didengki. Dengki seperti ini suatu kejahatan dan sangat dilarang oleh agama
v  Dengki yang dilandasi dengan harapan untuk mendapatkan nikmat sebagaimana yang diperoleh orang yang didengki tanpa mengharapkan dicabut nikmat dari orang yang didengki. Dengki semacam ini tidak terlarang dan tidak tercela karena dengki ini membuat perilakunya berjiwa besar , berperilaku baik dengan berusaha meniru perilaku orang yang dia. dengki dan tetap mencintai dan mengharapkan agar nikmat tidak dicabut dari orang yang dia dengki. Dengki seperti ini dinamakan Dengki Al – Ghitbah.
            Agar sifat dengki tidak dapat menghinggap dalam pribadi muslim maka ada beberapa langkah untuk menjauhi sifat dengki , yaitu ;
v  Berlindung kepada Allah
v  Bertakwa
v  Sabar menghadapi musuh. Tidak ada cara yang lebih ampuh untuk mengalahkan kejahatan orang yang didengki selain bersabar dan bertawakkal kepada Allah. Dengan sabar dan tawakkal , pengaruh kejahatan orang yang dengki akan hilang dalam waktu singkat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al – Hajj ayat 60 ,
š
              “Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita Kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pema'af lagi Maha Pengampun”.

2 ) Menyelidiki atau mencari – cari kesalahan orang lain
            Allah melarang umatnya berbuat Tajassus atau mencari – cari aib orang lain . Perbuatan ini didorong oleh rasa ingin tahu terhadap aib orang lain oleh seseorang dari apa yang kita lihat dari lahiriah saja. kita juga tidak boleh menghakimi seseorang kecuali apabila ia melanggar ketentuan – ketentuan yang ada dan jelas bukti – buktinya disaksikan secara lahiriah oleh orang banyak

3 ) Saling membenci dan saling membelakangi
            Maksudnya yaitu saling membenci dan saling menjauhi antar sesama muslim tanpa kesalahan yang jelas menurut syara. Allah telah mengharamkan kaum muslim yang saling membenci sebagaimana dalam surat Al – maidah ayat 91 Allah berfirman ,

            91.  Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

            Rasulullah SAW bersabda ,
            Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kalian saling membenci, saling dengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Dan tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari," (HR Bukhari  dan Muslim ).

4 ) Membeli barang yang sedang dibeli orang lain
            Dalam hadis di atas, ada etika yang harus diperhatikan oleh kedua belah pihak yang terlibat dalam transaksi. Larangan membeli atas penjualan orang lain atau menawar atas tawaran orang lain bukan hanya ditunjukan kepada pihak pembeli, tetapi juga pada penjual.
            Bagi penjual, praktek yang melanggar etika penawaran tersebut dapat berbentuk menawarkan barang dagangannya dengan harga yang lebih rendah kepada calon pembeli yang sedang proses tawar menawar dengan penjual lain. Praktek tersebut dapat juga berbentuk menawarkan barang yang kualitasnya lebih baik dengan harga yang sama kepada calon pembeli yang sedang proses tawar menawar atau pada masa khiyar dengan penjual lain. Penawaran tersebut tentu saja bertujuan untuk mengalihkan calon pembeli agar membeli barang dagangannya dan meninggalkan penjual sebelumnya. Cara yang seperti ini dilarang karena sangat tidak etis ketika ada pihak yang merebut calon pembeli dengan cara yang tidak etis. Misalnya , “ Kembalikan saja barang itu kepada penjualnya , nanti barangku saja yang kau beli dengan harga yang lebih murah dari itu “
            Adapun bagi calon pembeli, praktek menawar tawaran orang lain yang melanggar etika penawaran dalam hadis ini dapat berbentuk:
1. Calon pembeli kedua memberikan penawaran harga lebih tinggi dari penawar pertama yang sedang proses tawar menawar dengan penjual atau pada jual beli yang masih dalam masa khiyar.
2. Calon pembeli kedua maminta kepada penjual yang sedang masa khiyar untuk membatalkan jual beli dengan pembeli pertama dengan memberika janji akan membeli dengan harga yang lebih tinggi.
3. Dalam prakteknya, termasuk penawaran terhadap tawaran orang lain ketika calon pembeli baru menyatakan kekurangan barang yang sedang ditawar oleh calon pembeli sebelumnya. Cara seperti itu dilakukan dengan maksud agar penawar tidak jadi membeli barang tersebut dan pembeli kedua bermaksud untuk membelinya.    
            Perbuatan ini dilarang karena akan menyakiti hati atau perasaan pembeli yang pertama. Sama halnya kita sebagai pembeli tidak boleh menawar barang yang sedang ditawar oleh orang lain. Misalnya , “ Tolaklah harga tawarannya itu , nanti aku yang membeli dengan harga yang lebih mahal “.

5 ) Menganiaya , membiarkan , mendustai dan menghina sesama muslim lainnya
            Aniaya terhadap sesama kaum muslimin seperti ghibah (mengumpat), naminah (mengadu domba), fitnah, mencuri, merampok, melakukan penyiksaan dan melakukan pembunuhan, berbuat korupsi dan manipulasi. Aniaya termasuk dosa besar , sebagaiman firman Allah dalam surat Al- araf ayat 33 , berikut dibawah ini

            33.  Katakanlah: "Tuhanku Hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."

            Sebagai sesama kaum muslim , kita tidak boleh membiarkan sesama muslim kesusuahan , kita harus memberikan bantuan , Allah SWT berfirman dalam surat Al-maidah ayat 2

            “2,,,,,,,,,,,dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”

            Adapun sabda Rasulullah SAW dibawah ini ,
ﻮﷲﻔﻰﻋﻮﻦﺍﻠﻌﺑﺩﻤﺎﺪﺍﻡﺃﻠﻌﺑﺩﻔﻰﻋﻮﻦﺁﺨﻳﻪ
            “ Allah selalu  menolong hambanya selagi hamba itu masih menolong saudaranya”.
            Kita sesama muslim juga tidak boleh saling membohongi satu sama lain karena bohong  merupakan akhlak yang buruk. Bukan termasuk golongan orang – orang shaleh yang senantiasa berbohong. Sebagaimana Allah SWT berfirman ,

            105.  Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta.

            Allah juga melarang suatu golongan mengolok-olok golongan lainnya. Perbuatan ini amatlah dicela karena timbul dari rasa kagum terhadap diri sendiri yang sekaligus menghina orang lain. Sifat ini akan dapat mengakibatkan hal-hal yang bisa menimbulkan permusuhan antara teman.
            Terakhir , menjaga kehormatan antar sesama muslim adalah hal yang terpenting untuk menjaga kesatuan dalam tubuh masyarakat. Dan sebaliknya menghina kehormatan atau martabat orang lain akan bisa menimbulkan rasa saling membenci, perpecahan dan hilangnya rasa gotong-royong. Menghina orang lain dapat terdiri dari sifat menuduh dan memberi julukan yang dibenci olehnya, jelek sangkaan, mengintai dan membicarakan perihal orang lain di kala orang tersebut tidak ada.  Oleh karena itu, Islam menganggap bahwa setiap hal yang menyentuh kehormatan orang lain termasuk perbuatan dosa yang harus dijauhi oleh orang-orang yang beriman. Firman Allah SWT ,         

            12.  Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

            Adapun riwayat dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi saw. beliau bersabda, "Janganlah kalian berprasangka sebab prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian saling mengintai kesalahan, saling bersaing, saling iri, saling benci, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara," (HR Bukhari dan Muslim )

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Berdasarkan penjelasan di atas mengenai hadis ini , penulis makalah berkesimpulan bahwa  kita sebagai sesama muslim merupakan suatu kesatuan dan tidak saling bercerai – berai. Allah tidak suka apabila diantara kaum muslimin saling bertengkar , saling bermusuh – musuhan , saling mengejek bahkan sampai menganiaya , Allah juga tidak akan menolong seorang muslim apabila orang itu hanya diam melihat orang islam yang lain sedang dilanda kesusahan.
            Tidak sampai disitu , hadis ini juga menekankan adanya tata cara jual beli yang baik sehingga tidak membuat sesama muslim saling merugikan satu sama lain sehingga persaudaraan sesama muslim tetap terjaga.
            Adapun hal – hal lain yang harus dihindari oleh umat islam agar persaudaraan antar sesama muslim tetap terjaga yaitu , menganiaya terhadap sesama muslim , tidak menolong , mendustai umat islam , dan merendahkan kehormatannya.
C . Saran
            Alangkah baiknya kita sesama muslim tetap menjaga hubungan yang baik karena kita sebagai sesama muslim dalam islam adalah bersaudara satu sama lain.




DAFTAR PUSTAKA

            Abdul Al-Azhim dkk, Ringkasan shahih muslim Arab-Indonesia,Bandung:Mizan pustaka , 2004
            Al – Jauziyah qayyim , Menolak bahaya sihir dan dengki , Jakarta , Lentera , 2001
            Suhendi , Hendi , Fiqih muamalah , Jakarta , PT Raja Gravindo persada , 2007
            Sulaemang , Materi hadis dakwah , Kendari , STAIN Kendari , 2007
            Qardhawi, Yusuf, Fatwa-fatwa Kontemporer Jilid 1, Jakarta : Gema insani Press
           

Jumat, 08 November 2013

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ; ASPEK KONSEPTUAL , PERSEPTUAL DAN EGOSENTRIS



BAB II
PEMBAHASAN

A.   Perkembangan Konseptual
    Masa Konseptual Anak Pada Tahun Pertama Masih Membentuk Kausal, yaitu Melihat sesuatu Benda dengan Keseluruhannya dan Melihat Sesuatu Secara Global. Pandangannya Masih Belum Mampu untuk melihat secara Bagian-Bagiannya, Secara Terperinci, Karena Penglihatannya Terhadap Benda Belum Mampu Melihat Secara Khusus. Pandangannya Masih Terpusat Pada Dirinya dan Ketidakmengertian terhadap Benda Tersebut. Semua Informasi yang ditanggap akan Diterima secara Langsung tanpa adanya diferensiasi, Analisis dan Tanggapan yang disesuaikan dengan dirinya.
    Kesan Pertama Itulah Yang Akan Menjadikan anak terhadap Sesuatu Seperti Contoh Warna diatas, Karena Pada Masa ini anak Masih dalam Keadaan yang Kosong, Dalam Arti ia tidak Mengetahui dan Mengerti Apa-apa. Oleh Karena Itu Segala sesuatu yang Pertama kali itulah yang dikenalnya, Belum masuk sebagai Pengertian. Pandangannya Terhadap Sesuatu Benda yang Mempunyai Bagian-bagian atau Terstruktur, Akan diperhatikan dan Diamatinya secara Keseluruhan. Misalnya jika anak diperkenalkan sebuah gambar rumah dengan bagian-bagiannya, pintu, jendela, kaca dan lain sebagainya. Apabila ditunjuk salah satu bagian tersebut adalah rumah itulah pengertian anak. Karena yang diperhatiakan dan menjadi pengamatan anak adalah rumah yang telah diperkenalkannya dan apabila salah satu bagian tersebut dipisah dari rumah, di jendela itu ada bagian-bagian lain, seperti kunci atau lainnya,  meskipun ditunjuk salah satu bagian tersebut maka anak akan mengatakannya jendela.
    Demikian pula halnya apabila anak diberikan kalimat yang terperinci, pada saat itu anak tidak memahami dan mengerti, diminta untuk mengerti, maka ia akan merasa bingung dan tidak jelas, bisa membaca tetapi tidak mengerti apa yang dibacakannya. Karena pada masa ini anak membutuhkan pengenalan bukan pengertian. Pengertian yang dipaksakan saat anak belum mengenal, maka dengan sendirinya anak akan merasa beban menerima semua yang dilihat dan didengarnya. Semua informasi yang diterima tanpa menggunakan kemampuan untuk mengasimilasi dalam penyesuaian dirinya, maka informasi yang masuk dan diterima anak akan berbentuk;
v  Global ; Penerimaan informasi anak secara keseluruhan, tanpa memperhatikan bagian-bagian dari informasi tersebut
v  Langsung ; Semua informasi yang dilihat, didengar, dan dirasakan akan diterima secara langsung, yang kemudian secara langsung pula ia mengikutinya.
v  Pasif ; Penerimaan informasi anak pada masa ini sifat pasif, karena belum adanya tanggapan yang berarti
v  Spontanitas ; Perilaku anak menunjukkan spontan dalam menanggapi segala yang berhubungan dengan dirinya atau lingkungannya. Belum terlihat kontrol perilaku dan bahasa.
    Proses pembentukan pengertian pada anak akan dilakukan dengan berbagai macam kemampuan sesuai dengan usia mereka yang masih pasif, menerima dan menunggu apa yang diberikan, selanjutnya mulai menggunakan kemampuannya dan fungsi-fungsinya yaitu dibawah ini sebagai berikut;
Pengalaman belajar
    Yaitu segala sesuatu yang dialami dan dirasakan anak sebagai suatu penagalaman yang menyenangkan  dan tidak menyenangkan. Pengalaman ini diperoleh dari luar individu dan diterima ke dalam individu untuk diasimilasikan ke dalam bentuk aktivitas.
    Pengalaman individu yang diperoleh sejak dini merupakan hal yang penting dan bermanfaat untuk perkembangan selanjutnya. Pengalaman yang merupakan proses pembelajaran yang diterima sebagai pengertian, kemudian anak akan membentuk sikap,  yaitu dengan menerima atau menolak segala sesuatu yang dialaminya. Proses pengalaman dibagi menjadi tiga macam, yaitu Pengalaman yang dilakukan sendiri, Pengalaman yang dialami dari luar dirinya, dan pengalaman trial.
Pengulangan
    Adalah di masa anak berusaha mencapai suatu kepuasan dan kenikmatan atas perbuatannya. Hal itu terlihat dari kecenderungan seorang anak yang senantiasa mengulang-ngulang tingkah laku. Pengulangan terjadi karena dalam perbuatan tersebut terdapat suatu kenikmatan, kepuasan, dan menyenangkan.
    Adanya kenikmatan dan menyenangkan terhadap perbuatan tersebut, menyebabkan anak mempunyai dasar pengulangan. Pengulangan dibagi dalam tiga fungsi, yaitu; ( 1) Terjadinya pengulangan atas unsur diri ( usia 4 – 10 bulan), misalnya memainkan jarinya, membuang benda yang dipegang. ( 2) Pengulangan karena adanya unsur luar dirinya ( Usia 10 – 24 Bulan). Saat ini anak mencoba mengeksplor dan memanipulasi objek-objek baru disekitarnya dan dilakukannya dengan pengulangan. Misalkan menyembunyikan suatu benda jika telah diketahui oleh orang lain ( menutup matanya kemuian membukanya lagi). ( 3) Pengulangan terjadi bukan lagi suatu kebetulan melainkan rekayasa anak dengan menggunakan imajinasi. Ini biasa terjadi pada usia 2 tahun – 4 tahun. Saat ini anak mulai menggunakan imajinasinya untuk memainkan suatu objek dengan semua informasi yang diperolehnya. Misalnya anak suka mengamati sebuah film maka mereka mencoba dengan menggunakan objek yang lain dengan imajinasi untuk memainkan film kartun.
Peniruan ( Imitasi)
    Merupakan dimana masa anak mulai mengamati, memperhatikan, dan mendengar apa yang diperbuat orang lain , baik tingkah laku ataupun ucapan. Anak biasanya mengikuti persis apa yang dilihat atau didengarnya. Proses imitasi merupakan salah satu tahap perkembangan konseptual terjadi dimana anak sebelumnya tidak mengerti, dan setelah melakukan imitasi, apa yang dilakukannya itu menyenangkan atau tidak menyenangkan, mendapat respon positif ataupun negatif.
Perhatian
    Yaitu pada awal perkembangan anak perhatian hanya terarah pada dirinya sendiri, maksudnya segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya akan diarahkan atau ditunjukkan hanya pada dirinya. Misalkan ada orang membawa suatu benda, maka anak akan biasanya tidak melihat siapa yang membawa benda tersebut tetapi bendanya. Jadi pusat perhatian anak pada usia awal tertentu hanya terbetas pada satu objek yang menjadi perhatian dan menarik, sedangkan objek yang lainnya belum mendapatkan perhatian. Anak melihat dan memperhatikan objek baru karena objek sebelumnya tidak lagi menarik. Perhatian anak hanya terpusat pada satu objek saja dan belum mengarah pada kegunaan dan arti objek tersebut.
Eksplorasi secara Individual
    Artinya dengan berkembangnya usia, maka anak mulai mengembangkan aktivitas lainnya, yaitu dari pusat perhatian ada rasa ingin menyentuh atau meraih objek yang menjadi pusat perhatiannya, yang disesuaikan dengan berkembangnya kemampuan saraf dan otot yang tumbuh besar dan menguat. Dengan kemampuan tersebut anak berusaha untuk menjelajahi segala sesuatu yang menjadi perhatiannya. Hal ini juga disesuaikan dengan kemampuan anak yang mulai mahir merangkak atau mulai berjalan.
    Rasa keingintahuan anak juga mulai berkembang dengan mencoba mencari sesuatu benda yang hilang yang menjadi pusat perhatiannya, dalam hal ini dapat dilihat pada permanensi objek. Rasa keingintahuan dimulai dari usia 0 -2 tahun samapai 4 tahun , yang mencoba untuk memegang dan mengambil suatu benda yang menjadi perhatian dan baru yang belum pernah dirasakan atau disentuh.
    Perkembangan selanjutnya pada masa konseptual akhir akan menunjukkan suatu bentuk eksplolarasi penolakan, yaitu anak berusaha untuk menolak keinginan orang lain terhadap dirinya yang berupa, pembangkaka, peniruan, protes dan lain sebagainya.
B.   Perkembangan Perseptual
    Perkembangan Perseptual Anak dimulai dengan meningkatnya Tanggapan terhadap Informasi Baru yang kemudian diasosiasikan dengan pengalaman yang Pernah didapat pada Masa Konseptual. Dengan Asosiasi ini anak Mulai Berusaha Menanggapi Semua yang menjadi Pusat Perhatiaanya. Yang Berupa Pertanyaan yang timbul dari Rasa Keingintahuan , Protes dari Penolakan, Serta Sifat Ketergantungan pada Orang lain atau Benda.
    Persepsi atau tanggapan yang terjadi karena adanya perhatian, pengalaman imitasi, kebutuhan dan keinginan, senang dan tidak senang yang diterima sejak masa konseptual. Tahap ini seperti yang dijelaskan oleh piaget terjadi pada praoperasional, dimana anak mulai menggunakan kognitifnya, baru mencoba merealisasikan segala sesuatu yang diperoleh dari tahapan sensori-motorik. Anak pada masa ini tidak menerima segala sesuatu secara langsung, melainkan berusaha untuk menunggu sesaat dan kemudian mulai menerimanya, ia dapat menimbulkan situasi-situasi yang tidak langsung ada. Biasa juga disebut dengan kemampuan untuk melakukan tingkah laku simbolik, yaitu diawali dengan berpura-pura terlebih dahulu.
    Pada masa perseptual ini segala informasi yang diperoleh pada masa konseptual, kemudian dirangsang untuk mencoba menanggapinya tanpa harus terlibat langsung ke dalam persoalan itu, atau masalah yang baru ditanggapinya. Dengan kata lain anak tidak mampu mengambil perspektif orang lain ( Belum mengerti sudut pandang orang lain). Misalkan anak diminta memperhatikan tiga warna, Merah, hijau, dan kuning dari sudut pandang orang lain, namun anak tetap melihatnya sesuai dengan pandang mereka, yakni melihat warna, Kuning , hijau, dan merah.
    Masa perseptual ini ditandai dengan sebutan ; 1) Semaunya sendiri ( Mengerjakan sesuatu tidak sesuai dengan kehendak orang tua, (2) masa Negativisme ( Anggapan bahwa anak sering melakukan sesuatu yang bertentang dengan kebiasaan-kebiasaan), ( 3) masa bermain ( anak dan bermain tidak dapat dipisahkan), (4) masa prasekolah ( Usia anak sudah memasuki usia sekolah), masa kelompok (Anak sudah dapat membedakan benda yang miliknya dan milik orang lain), ( 6) masa keingintahuan ( Anak senang bertanya, menjelajah, membayangkan, dan membandingkan).
C.   Egosentrisme
    Egosentris adalah Pemusatan Pada Diri-sendiri, Memandang segalanya pada diri-sendiri, merasakan sesuatu untuk dirinya Sendiri. Rasa Egosentris yang Timbul pada Individu dikarenakan adanya Rasa Keingintahuan terhadap sesuatu yang dipandang, yang diamati, dirasakan dan dipikirkan hanya diarahkan pada dirinya saja. Tidak menempatkan dirinya pada orang lain.
    Egosentrisme tidak sama dengan Egois. Egois merupakan suatu sikap yang menunjukkan Ketamakan, Kepentingan, dan Kemauan yang berlebihan terhadap Hak Orang lain terhadap Dirinya. Ketamakan dapat dilihat misalkan pada Anak yang ingin menguasai semuanya Walaupun itu Bukan Miliknya dan Bahkan Merusak. Egois Sebagai Salah Satu Sifat Mausia sangat merugikan terutama dirinya sendiri.
    Egosentris juga berlawanan dengan Desentrasi, yaitu Individu mengadakan, melihat, dan mengamati objek dengan benda-benda. Dengan kata lain anak sudah dapat membedakan dalam pengamatannya dengan berbagai sudut, baik dengan menggunakan persepsi maupun pengamatan dan perilaku individu itu sendiri.
    Jadi, Egosentris menimbulkan perasaan ingin tahu sesuatu yang sifatnya baru dan menarik bagi anak itu sendiri, atau biasa sering melihat suatu benda yang ada di Sekitarnya. Ia tidak menghiraukan, namun suatu saat ketika ia melihat benda yang sama, pada tempat yang sama, bersamaan dengan rasa keingintahuannya, kemudian berusaha untuk menghampiri, meraba atau memegangnya. Rasa keingintahuannya ini yang disebut Egosentris.
1. Egosentris terhadap Benda
    Egosentris ini terjadi pada usia 0-4 tahun, pada masa ini perhatian anak tertuju pada sesuatu yang baru. setiap kali melihat benda atau sesuatu yang baru dan menarik, maka pada saat itu rasa keingintahuan anak mulai muncul, dimana anak hanya sekadar ingin mengetahui dan merasakan saja.
    Sifat keingintahuan terhadap benda tersebut mempunyai sifat sementara, setelah mengetahui dan merasakan maka anak akan meninggalkannya, kemudian beralih kepada benda yang lain yang lebih menarik dan yang baru dilihatnya, atau benda tersebut membuat rasa penasaran meskipun sudah pernah dilihatnya.
    Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, usia pada saat itu termasuk dalam konseptual, dimana rasa egosentris tertuju hanya pada suatu benda yang diamati, untuk dikenal dan mengerti terhadap benda tersebut. Anak belum mengerti kepunyaan siapa benda itu dan bagaimana benda tersebut. Jadi apabila ada anak yang mengambil barang milik orang lain, itu karena ia tidak mengetahui bahwa barang yang diambilnya itu milik orang. Hasil observasi terhadap anak yang berusia 18 – 24 bulan menunjukkan bahwa;
1.    Egosentris muncul saat anak melihat suatu benda yang baru dan belum dikenal dalam pengertiannya
2.    Egosentris ini tercapai saat anak mempunyai kesempatan untuk mengenal dan memegang beda yang dilihat dan belum dikenalnya
3.    Anak akan meninggalkan benda yang dikenalnya bila benda tersebut tidak dapat dieksplolarisasi
4.    Rasa egosentris bertambah besar saat benda yang diinginkan tidak dapat diraihnya atau ada sesuatu yang menghambatnya.
    Egosentris berubah menjadi egois saat anak sudah kehilangan rasa keingintahuan dan memunculkan rasa takut kehilangan terhadap benda yang menjadi pengamatannya.
    Egosentris benda terhambat dikarenakan rasa ketakutan atau banyak larangan terhadap anak yang baru muncul rasa keingintahuan, sering disalahkan dalam memegang dan memainkan sesuatu, dan hal ini memunculkan perilaku;
·         Suka mengganggu teman-temannya dengan mencubit, memukul, dan mendorong
·         Suka merebut benda temannya atau mengambil makanan temannya, mengumpat dan merusak mainan dan benda orang lain
·         Tidak mempunyai keinginan melakukan aktivitas atas anjuran atau suruhan orang lain
·         Perhatian terpecah , sukar untuk konsentrasi dan cepat lelah dalam melakukan aktivitas
·         Aktivitasnya berlebihan dan motorik kasarnya yang lebih dominan daripada motorik halusnya, sehingga anak terhambat dalam menulis. Sementara anak yang terpusatkan rasa keingintahuannya atau egosentrisnya mempunyai kesempatan untuk menuangkan rasa keingintahuannya, maka anak siap untuk melanjutkan perkembangan berikutnya.
2. Egosentris Perhatian
    Egosentris perhatian terjadi pada anak usia 4 – 8 tahun, dimana pada masa ini anak sudah mulai melihat orang lain sebagai objek yang dapat memberikan sesuatu kepadanya. Pada usia ini anak sudah mampu mendifferensiasi terhadap benda maupun objek pengamatannya. Anak berusaha mengambil perhatian orang lain untuk dirinya, atau meminta orang lain untuk memperhatikan dirinya dan ia akan memperhatikan orang lain sebagai cara untuk menunjukkan dirinya.
    Rasa egosentris pada usia ini sesuai dengan tahapan anak pada perseptual dan kongkritual, saat ini anak berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang lain yang lebih dan menjadi pusat perhatian. Rasa perhatian ditunjukkan melalui tingkah laku yang membuat orang lain memperhatikan ( membuat orang ketawa, kesal dan marah)
    Pada usia selanjutnya perkembangan egosentris, yakni anak berusaha menunjukkan perhatiannya dengan melakukan berbagai aktivitas agar dapat diperhatikan oleh orang lain. Egosentris anak tidak lagi sebatas sementara melainkan menjadi penanaman kepercayaaan dan keyakinan untuk melakukan aktivitasnya sendiri sesuai dengan kemampuan dan potensinya.
    Egosentris pada saat ini akan terlihat pada ;
1)    Psikognitif, yaitu bahasa yang diucapkan dan kata-kata yang disampaikan sudah berusaha untuk dimengerti oleh orang lain dan berusaha untuk mengerti apa yang dibicarakan orang lain.
2)    Psikoafektif, yaitu anak memberikan dan menuruti sesuatu apapun yang diminta orang lain dari dirinya dengan mengharapkan sesuatu dari orang lain untuk dirinya
3)    Psikomotorik, dimana pada masa ini anak akan banyak beraktivitas di hadapan orang lain ( Bertingkah yang mengundang perhatian orang lain), misalkan anak akan bermain atau melakukan aktivitas apa saja yang akan menarik perhatian, jika ada orang dewasa atau orang yang lebih besar, maka ia akan menunjukkan aktivitasnya atau lebih aktif lagi bermain.

3. Egosentris Penampilan
   Egosentris pada saat ini berada pada usia tujuh sampai akil baligh. Perkembangan egosentris anak adalah anak ingin diakui keberadaannya, anak sudah merasakan dan dapat berfikir bahwa ia bagian dari keluarga, dan bagian dari teman-temannya. Pada usia ini anak sudah mulai mengerti dan dapat memahami apa yang dilakukan orang lain pada dirinya dan apa yang diperbuat pada lingkungannya. Misalkan orang tua membicarakan sesuatu persoalan dan mereka tidak diikutkan, maka mereka akan merasa disisihkan dengan menunjukkan wajah yang tidak menyenangkan atau melakukan sesuatu yang menjadi perhatian orang lain terhadap dirinya. Pada egosentris ini anak membutuhkan suatu penerimaan dirinya dari lingkungan, baik dari orang tua maupun dari teman sebaya. Agar dapat diterima anak sering menunjukkan sesuatu, baik perilaku tertentu yang membuat orang lain memusatkan perhatian, maupun sikap yang disukai baik orang tua maupun teman. Agar dapat diterima anak sering menunjukkan sesuatu, baik perilaku tertentu yang membuat orang lain memusatkan perhatian, maupun sikap yang disukai baik orang tua maupun teman.
    Perilaku lain pada egosentris ini adalah melakukan protes atas perlakuan orang lain terhadap dirinya, yakni dengan cara mendiamkan, meninggalkan, atau masa bodoh ( seakan-akan tidak tahu/ mendengar) terhadap perintah atau interfensi orang lain atas perilakunya. Kompromi juga merupakan sikap dan perilaku pada egosentris ini, misalnya anak menunjukkan kemampuannya agar dapat diterima sebagai bagian dari lingkungan, dan bahkan mengikuti aturan dan perintah orang dewasa atau orang tua







BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
    Jadi, dalam suatu proses perkembangan terdapat adanya beberapa aspek – Aspek pada perkembangan manusia, yaitu sebagian diantaranya adalah aspek Konseptual, aspek Perseptual, dan Aspek Egosentris. Aspek konseptual menyangkut pemahamnnya terhadap objek-objek, aspek perseptual, menyangkut objek yang dilihatnya sudah mampu ditanggapinya dengan cara mengasosiasikan pengalaman sebalumnya, dan Aspek perkembangan egosentris adalah  Timbulnya rasa keingintahuan anak terhadap objek yang menarik perhatiannya.
B. Saran
    Sebagai manusia biasa, kami menyadari kekurangsempurnaan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu dengan lapang dada kami menerima segala kritikan dan sarannya demi perbaikan Sistematika penulisan makalah.







DAFTAR PUSTAKA

            Machmud , Hadi. Psikologi perkembangan. CV Shandra. Kendari. 2010